Cirebon – Sebagai kota budaya dan sejarah sampai dinobatkan sebagai kota pusaka, kota Cirebon bukan cuma kaya peninggalan tapi kaya akan budaya dan ragam makanan khasnya. Mulai dari makanan berkuah sampai yang tanpa kuah, mulai dari bahan baku sayur sampai yang mengandung kolesterol tinggi, dari yang dijajakan cuma pagi hari dan sampai yang cuma dijajakan hanya di malam hari. Semuanya lengkap ada di kota Cirebon.

Baik kota maupu kabupaten Cirebon punya makanan khas yang sama yaitu nasi jamblang, empal gentong dan tahu gejrot. Salah satu kuliner khas Cirebon yang sangat jarang dijumpai di tmpat lain adalah docang. Docang menurut cerita masyarakat merupakan hidangan kesukaan Sunan Gunungjati pada saat para wali berkunjung ke Cirebon.

Kebiasaan orang Cirebon, Docang jadi menu sarapan yang sangat menggoda selera dan tentunya bisa jadi moodbooster. Docang paling gampang di temukan di beberapa lokasi di kota Cirebon tapi cuma pagi hari (sampai jam 09:00). Docang semacam sayur berbahan daun singkong, toge matang ditambah parutan kelapa yang ditambah kuah yang berbumbu bawang merah, bawang putih, ketumbar, merica, kemiri, sereh, salam, garam dan gula. Satu hal yang membedakan diantara semua penjaja docang ini adalah campuran dage yang di campurka bersama bumbu. Ada yang menggunakan dage bangkil dan ada juga yang pake dage gembus karena harganya yang leih murah.

Docang selalu disantap dengan lontong, sebelum potongan lontong disiram kuah, diatas lotong diberi daun singkong matang yang sudah dipotong, toge matang dan parutan kelapa. Diatas semua itu ditambah dengan kerupuk docang dalam porsi yang cukup melimpah. Kerupuk docang jadi tambahan penting yang “wajib” disajikan. Setelah itu barulah kuah docang panas meluncur disiram diatas dan makanan ini paling mantap disantap ketika panas/hangat.

Pertama kali mencoba docang pasti akan terasa aneh, tapi makanan ini punya sensasi tersendiri. (DC/RCH)

Bagaimana pendapat Readers?

Loading Facebook Comments ...