Penanggung Jawab CanHope Bandung, Risma Yanti mengatakan, bahwa gejalanya memang samar dan bisa juga timbul pada penyakit lain seperti maag dan ambeien sehingga sulit dibedaka di sela-sela sosialisasi tentang kanker kolorektal di CGV Paskal 23 Bandung pada hari Kamis (30/1/2020).
Berdasarkan fakta survey global tren kesehatan, kanker  menjadi penyebab kematian nomor satu di negara-negara maju menggeser penyakit jantung.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kanker menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak setelah jantung dan stroke. Di Jawa Barat, dalam sepuluh tahun terakhir masyarakat yang menderita kanker bertambah banyak dua kali lipat.

Salah satu kanker yang paling tidak diketahui masyarakat umum ialah kanker kolorektal. Gejala dari kanker ini tersamar dengan penyakit lain yang lebih umum. Kanker kolorektal atau dikenal juga dengan sebutan kanker usus besar merupakan jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau pada bagian paling bawah dari usus besar yang terhubung ke anus (rektum).

Seorang ahli Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Dr. Zee Ying Kiat lewat video conference mengatakan, bahwa kanker kolorektal ini memiliki beberapa gejala yang umum.

“Gejala yang dirasakan itu biasanya BAB mulai tidak teratur, ada darah di tinja, penurunan berat badan yang sangat signifikan. Kemudian gejala lain yaitu sering merasa lesu dan letih, serta merasa ada sakit di perut seperti kembung dan merasa perut tidak penuh,” ungkapnya.

“Yang paling penting dan signifikan itu apabila BAB kita itu ada darah, itu yang sudah harus sangat kita waspadai,” ucapnya.

Kebanyakan kanker ini bermula dari polip usus atau jaringan yang tumbuh di dinding kolon atau rektum, namun tidak semua polip akan berkembang menjadi kanker kolorektal.

“Polip itu belum tentu kanker, tetapi bisa menjadi pemicu kanker. Jadi, kalau tidak ditangani secepatnya bisa saja menyebabkan kanker,” ujar Risma.

Zee Ying Kiat mengungkapkan bahwa salah satu tindakan untuk pencegahan ialah dengan pendeteksian secara dini atau skrining.

“Salah satunya bisa mengirimkan contoh tinja untuk diperiksa ke laboratorium, dan prosedur kolonoskopi. Jadi dengan pemeriksaan dini ini, akan besar kemungkinan dokter akan mengetahui lebih awal, kemudian menentukan pengobatan yang tepat setelahnya,” ungkapnya.

Risma mengungkapkan, kolonoskopi ini merupakan cara yang melibatkan alat tabung tipis dan fleksibel yang dimasukkan melalui dubur sehingga memungkinkan dokter untuk memeriksa lapisan usus besar. Biasanya dilakukan dengan sedasi ringan, kolonoskopi memerlukan waktu 15 menit dan polip jinak dapat dihilangkan selama proses.

Risma mengungkapkan bahwa kanker ini bisa dipicu oleh konsumsi makanan yang tidak sehat.

“Terlalu banyak mengonsumsi daging merah, makanan tinggi lemak, fast food, makanan-makanan yang dibakar terlalu matang atau gosong, itu harus kita hindari,” ujarnya.

Selanjutnya, Zee Ying Kiat menyebutkan bahwa kanker kolorektal ini bisa dicegah dengan memperhatikan gaya hidup menjadi lebih sehat, menghindari makanan yang memicu kanker ini, mengatur diet yang lebih baik dan tidak kekurangan serat, rajin berolahraga, melakukan pemeriksaan awal atau deteksi dini, dan lain-lain.

Nah, mencegah akan lebih baik dibandingkan mengobati. Mari kita ubah pola hidup dan gaya hidup kita dengan lebih sehat.

 

 

 


Note: NGIDERNGILER.COM memiliki fitur Multi User Generated, setiap artikel merupakan tanggung jawab penulis


 

 

Bagaimana Menurut Kamu?