Buat kalian yang suka jajan take away makanan, pasti sering berurusan dengan Styrofoam, kadang kita merasa bersalah, apalagi berita di media sangat simpang siur. Apakah Styrofoam aman atau tidak, apalagi sekarang dengan isu global warming kita ingin ikut menyelamatkan bumi kita tercinta.

Beruntung saya kemarin hadir disebuah acara di mana saya dijelaskan lebih lanjut tentang kebenaran Styrofoam

Kebenaran tentang Styrofoam

Kadar residu dalam kemasan makanan styrofoam yang beredar di pasaran masih aman dipakai. Dipakai sebagai wadah ya bukan dikonsumsi sebagai makanan juga kali. Meski begitu, residu monomer stiren yang tidak ikut bereaksi bisa terlepas ke dalam makanan yang berminyak/berlemak, mengandung alkohol, apalagi dalam keadaan panas. Beruntunglah residu stiren nya masih dalam ambang batas.

Ngomong-ngomong soal senyawa stiren, ternyata di dalam buah stroberi terdapat stiren. Di dalam stroberi residu stiren sekitar 274 mikrogram/kg. Angka itu masih ada dalam rentang 0-39 ppm. Tidak hanya stroberi, senyawa stiren juga ada di beberapa makanan lain yang sehari-hari kita konsumsi, seperti kayu manis, biji kopi, kacang, tepung, dan rokok yang kita hirup setiap hari. Bedanya, residu stiren di dalam makanan alami, sementara itu stiren dalam kemasan makanan styrofoam adalah sintetis.

Styrofoam yang juga dikenal sebagai polistiren (PS) yang merupakan bahan plastik serba guna, sifatnya keras dan padat. Polistiren sangat berguna untuk produk yang butuh kejernihan dan kestabilan, seperti kemasan makanan styrofoam dan peralatan laboratorium. Polistiren juga merupakan bahan baku yang umum pada peralatan rumah tangga, barang elektronik, suku cadang kendaraan, mainan anak-anak dan berbagai peralatan kesehatan.

Bila diolah menjadi bahan busa yang sangat diminati karena sifatnya mampu mengisolasi dan memberi efek bantalan. Polistiren sangat lazim digunakan dalam penyajian makanan dan bahan isolasi bangunan. Bahan ini biasa digunakan pada aplikasi yang bersentuhan dengan makanan, seperti wadah daging beku atau kotak makanan yang mudah dibawa

Para ilmuwan juga sudah menyimpulkan bahwa tidak ada alasan untuk khawatirkan pemaparan terhadap stiren dari makanan atau polistiren yang digunakan dalam wadah yang bersentuhan dengan makanan, seperti kemasan dan wadah penyajian makanan. Styrofoam aman dipakai karena bersih, higienis, dan tidak berpori.

Kemasan makanan styrofoam sudah menjadi faktor penting dalam memelihara kebersihan bagi usaha penjualan bahan makanan dan konsumen di tempat umum. Daging dan unggas serta makanan hasil laut biasanya dikemas dalam wadah polistiren busa guna mencegah kebocoran cairan dan bakteri yang dapat membahayakan.

Ada banyak kelebihan kalau kamu menggunakan kemasan makanan styrofoam selain higienis, di antaranya ringan karena 95%-98% bahannya terdiri dari udara, mudah diolah ketimbang produk kemasan lain, mengisolasi suhu di dalam wadah (yang panas tetap panas dan yang dingin tetap dingin. Memperlama masa penyimpanan suatu bahan makanan, kuat sekaligus tahan lama dan tahan banting, dan tentu saja murah. Tidak heran sih ada banyak pelaku usaha makanan memilih menggunakan polistiren karena styrofoam aman digunakan.

Meskipun styrofoam aman digunakan, tidak serta merta kamu menggunakan styrofoam sebagai wadah makanan terus-menerus, ada batasnya juga. Yang jelas kalau bisa tiak setiap hari menggunakan polistiren itu untuk wadah makanan, kenali styrofoam dari logonya, jangan sekali-kali memakai styrofoam untuk memanaskan makanan di dalam microwave, jangan pakai kemasan styrofoam yang rusah atau berubah bentuk. Menurut Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D, Kepala Labortorium Teknologi Polimer dan Membran, Institut Teknologi Bandung menyebutkan bahwa ambang batas suhu yang disarankan adalah maksimum 100 derajat. Kalau bisa lebih rendah suhunya ya lebih baik sih, menurut saya. Oh ya, terakhir, jangan buang sembarangan sampah styrofoammu.

Mengonsumsi makanan yang wadahnya berbahan polistiren, residunya bisa terakumulasi loh di dalam tubuh. Untuk itu jangan sering-sering apalagi yang sering dipake untuk wadah makanan panas. Kalau memang mau memasukkan makanan panas ke dalam wadah styrofoam, diamkan dulu beberapa menit agar suhunya turun. Sebab dengan seringnya pakai wadah styrofoam untuk makanan panas, kemungkinan tubuh mendapat racun stiren yang sedikit demi sedikit, lama lama ada di ambang batas dan memicu munculnya kanker.

Styrofoam Aman Dipakai Jadi Kemasan Makanan

Simpang siur tentang penggunaan wadah berbahan styrofoam di masyarakat sampai sekarang masih terasa. Masih banyak pelaku bisnis makanan atau minuman yang memakai alat tersebut untuk membuat masyarakat secara tidak langsung masih menggunakan styrofoam.

Tapi jika kita pergi ke Bandung, Jawa Barat di kota tersebut kita dipastikan akan susah untuk menemukan makanan yang dikemas dalam Styrofoam. Hal ini disebabkan pemerintah Bandung sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang isinya melarang penggunaan Styrofoam untuk bungkus makanan. Peraturan ini tertuang jelas dalam surat edaran Walikota Bandung terhitung mulai sejak 1 November 2016 yang kala itu Walikota nya masih dijabat oleh Ridwan Kamil (Kang Emil).

Menurut Keterangan dari Ir. Akhmad Zainal Abidin, Msc, Ph.D, Scientist/ Researcher dari Labotarory Technology Polimer and Membrane Institut Teknologi Bandung bahwa penggunaan Styrofoam itu tidak dilarang ujarnya ketika ditemui dalam acara Cooking In Style With Chef Lucky “How To Make Good Quality Take-Away Foods” yang digelar di Restoran Ocha & Bella di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Penggunaan styrofoam tidak dilarang karena ketika diteliti lebih jauh kandungan bahan berbahaya di dalamnya yaitu residu stiren ternyata konsentrasinya kecil. “Kandungan residu stiren pada styrofoam tidak lebih dari 10 ppm, di mana angka tersebut jauh dari batas aman yang menyatakan angka 5000 ppm. Maka dari itu, sebetulnya tidak masalah menggunakan Styrofoam.”

Ir. Zainal melanjutkan, bahkan dapat dikatakan bahwa penggunaan styrofoam itu aman karena bahan tersebut sebetulnya gampang untuk didaur ulang. Cuma saja, memang untuk tindakan daur ulangnya masih belum begitu masif.

Bicara mengenai sifat styrofoam itu sendiri, Ir. Zainal menjelaskan bahwa bahan tersebut tahan lama, lunak, ringan, murah, dan serba guna. Kekhawatiran akan masalah kesehatan juga sebetulnya tidak mesti menjadi masalah di sini.

“Karena kadar residunya yang sangat kecil, sebetulnya masyarakat jangan terlalu khawatir untuk menggunakan styrofoam,” papar Ir. Zainal menambahkan.

BPOM-pun tidak melarang penggunaan styrofoam untuk menyimpan makanan. Salah satu dasar alasannya adalah kandungan residu stiren di dalam styrofoam dalam batas aman. Hanya saja, BPOM menegaskan bahwa penggunaan dalam intensitas yang terlalu sering juga bisa memicu masalah kesehatan lanjutan. (klik disini untuk melihat dokumen BPOM)

BPOM tidak melarang penggunaan styrofoam untuk kemasan makanan atau minuman, namun BPOM meminta agar masyarakat lebih cerdas menggunakannya. Sebab, bagaimana pun pembungkus makanan jenis ini dapat mengeluarkan residu yang cukup berbahaya bagi kesehatan.

Fakta bahwa banyak dari masyarakat Indonesia yang menggunakan styrofoam lebih dari sekali. Nah, hal semacam itu yang mestinya dihindari bahkan tidak dilakukan sama sekali. Pemakaian yang terus menerus juga bisa memicu masalah kesehatan.

Setelah itu, masyarakat juga harus sadar bahwa penggunaan Styrofoam itu bukan hanya mengkhawatirkan manusia tapi juga mahluk hidup lain.

Jadi yang berbahaya atas penggunaan Styrofoam itu adalah cara kita membuangnya, cobalah pilah sampah Styrofoam mulai dari rumah sendiri agar mempermudah proses daur ulangnya.

Link Download Dokumen BPOM: klik disini

Bagaimana Menurut Kamu?